
Mati itu mengerikan, tapi apa mau dikata ALLAH sudah berfirman yaitu:
tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati... (ali-imran: 185).
Kematian juga jadi saksi bahwa manusia itu lemah. Dan menolak kematian itu juga ngak ada artinya. Kita ngak bakalan sanggup melawan kematian, sang pemisah kenikmatan hidup.
Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu didalam benteng yang tinggi lagi kokoh...(an-nisaa: 39).
Nah, yang paling takut itu adalah dalam kondisi seperti apa kita mati dan bagaimana caranya bertanggung jawab kepada allah setelah kita mati nanti. Ya, karena kita akan diminta bertanggung jawab atas semua kelakuan kita didunia.
Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua di kembalikan kepada ALLAH. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedangkan mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan). (al-baqarah:281).
Salah satu pelajaran yang bisa kita untuk ingat kematian adalah mengantarkan saudara, teman, atau tetangga kita yang meninggal. Dengan begitu kita bisa menghayati dengan khusuk makna kematian. Kita akan berfikir, hari ini dia, mungkin esok atau lusa kita yang akan menemaninya di alam barzahk?.
Hendaknya kalian berziarah kubur, karena sesungguhnya (berziarah) itu mengikatkan akan kematian. (HR Imam Muslim).
Udah begitu, masih nekat main-main didunia terus lupain ALLAH, padahal ajal bisa datang kapan aja? Sebaiknya enggak lagi ya.
Orang yang cerdik adalah yang menyiapkan dirinya dan beramal untuk kematin, sedangkan orang yan bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada ALLAH. (HR Ibnu Maajah).
Dan perjalanan yang pasti dilalui itu mengisyaratkan kepada kita bahwa diri kita diselimuti berbagai rahasia dan misteri. Sampai hari ini, ilmu pengetahuan belum dapat memahami esensi kehidupan dan kematian. Allah swt menisbatkan mati dan hidup kepada Diri-Nya dalam berbagai ayat Al-Quran Al-Karim:
“Yang menjadikan mati dan hidup…” (Al-Mulk/67:2).
“Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan…” (Al-Mu’min/40:68).
Bergetar hati kita ketika mendengar kata kematian. Peristiwa ini telah memastikan tiap manusia untuk bersedih, walau bagaimanapun juga usaha kita untuk menghindar. Kematian orang tua kita, saudara, anak-anak kita adalah contoh yang paling dekat yang akan membuat satu episode kesedihan didalam perjalanan hidup kita.
Kematian adalah suatu yang pasti, yang “membangunkan” kita semua dari “mimpi duniawi” dan menuju “kenyataan” lain yang akan kita hadapi di alam kubur. dua “kehidupan “ yang dulu kita alami yaitu “alam tidur” dan “alam dunia”, kini benar-benar telah menjadi mimpi ketika kita telah berada di liang kubur. Di dalam kubur - walau masih merupakan alam perantara - kita akan diperlihatkan kenyataan yang mendekati dengan apa yang akan kita dapatkan kelak di hari pembalasan. Kubur bukan lagi tempat kita menanam benih perbuatan, tapi sudah merupakan tempat kita melihat hasil dari benih perbuatan yang kita panen. kenyataan peristiwa dalam kubur merupakan “bayangan” dari hasil sebenarnya yang akan kita terima di akherat kelak.
Kematian mengajarkan kita untuk tidak mencintai sesuatu - yang tidak abadi dan bersifat keduniawian - secara berlebihan. Kematian juga mengingatkan kita bahwa sebenarnya kita ini “sedang bermimpi” layaknya mimpi di dalam tidur kita. Kematian akan menuntut usaha kita sekarang dalam mensucikan jiwa bagi persiapan memasuki tingkat kehidupan yang lebih tinggi, universal dan abadi. Bahkan beberapa riwayat para ahli Irfan dan sufi telah menceritakan kepada kita, bagaimana mereka bisa melihat fenomena yang terjadi “diatas” alam dunia yang sekarang kita tempati. Kata-kata “ diatas” sama sekali jauh dari dari makna material. kematian adalah makhluk penguasa kehidupan yang selalu mengintai kita.
Makna terpenting dari kematian adalah bahwa sesungguhnya manusia menakutkan ke-sementara-an. Ke-sementara-an memiliki arti ketidak-abadian. Sesuatu yang tidak abadi berarti sesuatu yang tidak sempurna. Sempurna memiliki ciri abadi dan tidak rusak. Karena itulah ketakutan kepada kematian sama saja dengan keinginan sesungguhnya manusia untuk hidup abadi dan sempurna. Namun, keabadian dan kesempurnaan bukanlah ciri alam material. Alam material adalah alam kerusakan, sedang alam spiritual adalah alam keabadian dan kesempurnaan. Keinginan manusia hidup abadi merupakan panggilan nurani yang suci, oleh sebab itulah secara fitrah manusia terpanggil untuk menuju kepada alam akhirat yang lebih sempurna milik Allah “Tuhan yang Mutlak Sempurna”. Karena untuk menuju alam kesempurnaan harus melalui kematian, maka - mengutip pendapat Raghib-Isfahani - kematian adalah jembatan menuju kenikmatan abadi.
Konon Socrates pernah berkata, sebagaimana dikutip oleh Asy-Syahrastani dalam bukunya Al-Milal wa An-Nihal (I:297),
“Ketika aku menemukan kehidupan (duniawi) kutemukan bahwa akhir kehidupan adalah kematian, namun ketika aku menemukan kematian, aku pun menemukan kehidupan abadi. Karena itu, kita harus prihatin dengan kehidupan (duniawi) dan bergembira dengan kematian. Kita hidup untuk mati dan mati untuk hidup.”